Menu Close

Pesan Damai Kiai Sholeh Bahruddin di ‘Maleman 21’ Ramadhan

Secara garis besar ibadah itu ada dua klasifisikasi. Pertama, ubudiyah. Seperti, sholat, puasa, wirit dan lain-lain yang sifatnya memang hubungan langsung dengan Gusti Allah. Kedua, muamalah. Yakni, ibadah yang berhubungan dengan kondisi sosial. Seperti, bekerja mencari nafkah, berbuat baik kepada sesama dan lain sebagainya.

Pernyataan itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ngalah Romo Kiai Sholeh Bahruddin dalam pembukaan pengajian ‘maleman 21’ Ramadhan, Minggu dini hari (26/5/2019) di Area Masjid Aminah, Asrama E-F.

“Kategori ibadah muamalah juga seperti, para Polisi dan TNI menjaga keamanan Negara. Para abdi Negara TNI-Polri mengamankan dari para perusuh dan pembuat kerusakan itu termasuk ibadah. Dalam konteks memberi rasa aman kepada masyarakat,” lanjut Romo Kiai menjelaskan.

Dawuh tersebut sebagai salah satu respon peristiwa demo yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah lain pekan lalu. Romo Kiai Sholeh berharap, para santri dan jama’ah tidak turut terprofokasi atau diadu domba seperti yang telah terjadi di Jakarta yang telah menyebabkan kerusuhan.

“Seluruh jamaah jangan sampai ikut diadu domba, diadu domba dengan polisi, diadu domba dengan TNI. Mari bersama-sama ikut menyatukan bangsa dan Negara,” pinta Romo Kiai.

Di al-Qur’an sebenarnya sudah dijelaskan, lanjut Romo Kiai Sholeh, bahwa kita tidak diperkenankan membuat kerusakan (kerusuhan) setelah adanya perbaikan (pembangunan). “Gusti Allah melarang perilaku merusak dan hal-hal yang membahayakan, setelah dilakukannya perbaikan/pembangunan,” beber Beliau.

Menurut Al-Hafizh Ibnu Katsir, ayat tersebut menunjukan jika berbagai macam urusan sudah berjalan dengan baik dan setelah itu terjadi kerusakan (kerusuhan), maka kondisi demikian ini lebih berbahaya bagi umat manusia. Sehingga, Allah Swt melarang hal itu, dan memerintahkan hamba-hambaNya agar beribadah, berdoa dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

“Al-Qur’an mengajarkan tidak membuat kerusakan (kerusuhan), lalu kita malah berbuat sebaliknya yang bertolak dari al-Quran. Apakah masih pantas kita disebut muslim? Karena Muslim haruslah berbuat kebaikan dan mendamaikan,” jelas Romo Kiai. Diakhir pengajian, Romo Kiai Sholeh Bahruddin memimpin doa untuk kondisi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Ya Allah, semoga Indonesia menjadi Negara yang damai selamanya,” pungkas Beliau. (rif/*).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *